BerandaKalimantan SelatanKabupaten Barito KualaAkibat Kabut Asap, Retribusi Pasar Barito Kuala Turun 14,74 Persen

Akibat Kabut Asap, Retribusi Pasar Barito Kuala Turun 14,74 Persen

HALOBORNEO.COM, MARABAHAN – Kabut asap yang menyelimuti wilayah Kabupaten Barito Kuala (Batola) turut mempengaruhi aktivitas perdagangan masyarakat. Salah satu indikasinya terlihat dari penerimaan retribusi pasar yang mengalami penurunan pada Agustus 2026.

Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Batola, Hery Sasmita, mengatakan penerimaan retribusi pasar pada Agustus tercatat Rp48.327.000. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan penerimaan pada Juli yang mencapai Rp56.681.000.

“Penerimaan retribusi pasar pada Juli Rp56.681.000, kemudian pada Agustus menjadi Rp48.327.000,” kata Hery seperti dikutip dari Jurnalispost pada Selasa (8/9/2026).

BACA JUGA : Putra Pariwisata Batola Raih Juara I Pemilihan Putra Putri Pariwisata Kalsel 2026

Dari kedua angka tersebut, penerimaan retribusi pasar mengalami penurunan Rp8.354.000 atau sekitar 14,74 persen dalam satu bulan.

Hery menyebut kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ikut mengganggu kegiatan perdagangan di sejumlah pasar. Sebagian pedagang memilih mengurangi atau tidak melakukan aktivitas berjualan, sedangkan kunjungan masyarakat ke pasar turut berkurang.

Situasi tersebut berpengaruh terhadap kesempatan pedagang melakukan transaksi. Ketika jumlah pedagang dan pembeli yang beraktivitas di pasar menurun, perputaran perdagangan pun ikut terdampak.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan yang dikutip ANTARA pada 26 Agustus 2026, Barito Kuala mencatat 132 kejadian karhutla dengan luas lahan terdampak mencapai 803,20 hektare.

Angka itu merupakan akumulasi kejadian sejak 1 Januari hingga 25 Agustus 2026. Karena itu, data tersebut tidak menunjukkan jumlah kejadian karhutla yang khusus terjadi selama Agustus.

Secara keseluruhan, BPBD Kalimantan Selatan mencatat 1.903 kejadian karhutla di wilayah provinsi tersebut dalam periode yang sama, dengan luas lahan terdampak mencapai 9.088,75 hektare.

Penurunan penerimaan retribusi pasar dapat menjadi salah satu gambaran adanya tekanan terhadap aktivitas ekonomi di tingkat lokal. Meski demikian, angka tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menghitung besarnya kerugian pedagang atau kerugian ekonomi masyarakat secara keseluruhan.

BACA JUGA : Syarif Hidayat dan Gusti Alam Puan Syabina Terpilih sebagai Putra Putri Pariwisata Kalsel

Pengukuran dampak ekonomi akibat karhutla membutuhkan data tambahan, seperti penurunan omzet pedagang, jumlah hari tidak berjualan, serta perubahan jumlah transaksi dan konsumen.

Kondisi tersebut menunjukkan dampak karhutla dapat merambah hingga aktivitas ekonomi masyarakat. Selain upaya pemadaman dan pengendalian dampak asap, keberlangsungan kegiatan perdagangan juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan selama kondisi bencana berlangsung.

Editor: Tim Redaksi

Penulis

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Most Popular