BerandaKalimantanKalimantan SelatanPemprov Kalsel Fokus Tangani Tiga Kawasan Rawan Karhutla di Banjarbaru

Pemprov Kalsel Fokus Tangani Tiga Kawasan Rawan Karhutla di Banjarbaru

Strategi tersebut menempatkan ketersediaan air sebagai fondasi utama penanganan. Pemerintah tidak hanya mengejar api di permukaan, tetapi juga berupaya membasahi kawasan, menjaga kelembapan tanah, dan membangun cadangan air yang dapat digunakan kembali ketika titik api muncul.

Muka Air Riam Kanan Jadi Perhatian

Di sisi lain, pemerintah juga menghadapi persoalan ketersediaan air dari Waduk Riam Kanan. Hanif menyebut muka air Dam Riam Kanan saat ini berada pada sekitar 56,25 meter.

Tanpa tambahan air yang berarti, muka air waduk diperkirakan turun sekitar 2,5 sentimeter per hari. Dalam sekitar 30 hari terakhir, kawasan tangkapan air Riam Kanan disebut tidak memperoleh imbuhan air yang berarti, sementara aliran keluar mencapai sekitar 12.500 liter per detik.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena air dari sistem Riam Kanan juga berkaitan dengan kebutuhan masyarakat dan operasional pembangkit listrik.

Berdasarkan proyeksi Satlak Klimatologi BMKG Kalimantan Selatan, hujan signifikan diperkirakan baru terjadi pada dasarian ketiga atau sekitar akhir November. Pemerintah karena itu perlu menjaga keseimbangan antara kebutuhan air untuk pemadaman karhutla, kebutuhan masyarakat, dan keberlangsungan sistem Riam Kanan.

Libatkan 350 Personel Gabungan

Kapolda Kalsel, Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan, mengatakan penanganan karhutla di kawasan Pekayuan melibatkan sekitar 350 personel gabungan yang terdiri atas unsur TNI, Polri, BPBD, Dinas Perkebunan dan Peternakan, serta perusahaan.

Personel tersebut dibagi dalam tiga sif agar penanganan dapat berlangsung secara berkelanjutan.

“Area yang menjadi tanggung jawab kami kurang lebih 900 hektare,” kata Rosyanto.

BACA JUGA : Harga BBM Nonsubsidi di Kalsel Turun

Selain posko utama, sejumlah posko tambahan didirikan di sekitar kawasan Pekayuan untuk mempercepat koordinasi dan respons terhadap titik api.

Menurut Rosyanto, pencarian sumber air menjadi salah satu prioritas karena keterbatasan air selama proses pemadaman. Dari pencarian tersebut, tim menemukan sumber air dengan debit yang dinilai cukup besar.

Upaya pencegahan juga mulai disiapkan dengan melibatkan akademisi untuk mencari pendekatan agar kebakaran tidak kembali berulang. Masyarakat dan pemilik lahan nantinya didorong membuat biopori untuk membantu menjaga kelembapan tanah bagian bawah setelah api berhasil dipadamkan.

Sumber: Adpim Kalsel

Penulis

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Most Popular