HALOBORNEO.COM, BANJAR – Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan (Sekdaprov Kalsel), M Syarifuddin, menekankan pentingnya penggunaan data yang terintegrasi dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalsel. Menurutnya, seluruh pihak yang terlibat perlu mengacu pada sumber data yang sama agar koordinasi dan evaluasi penanganan berjalan efektif.
Hal tersebut disampaikan Syarifuddin saat mengikuti Rapat Evaluasi Penanganan Karhutla Kalsel di Pos Lapangan BPBD Kalsel, kawasan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sambang Lihum, Jalan Gubernur Syarkawi, Gambut, Kabupaten Banjar, Rabu (23/9/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Syarifuddin mendampingi Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni, bersama jajaran Forkopimda Kalsel melakukan monitoring langsung ke lapangan. Mereka melihat kondisi titik api sekaligus aktivitas petugas dalam melakukan penanganan dan pemadaman karhutla.
BACA JUGA : Pemprov Kalsel Genjot Implementasi SSK untuk Percepat Pembangunan Sanitasi Permukiman
Berdasarkan data Pusdalops BPBD Provinsi Kalsel per 22–23 September 2026, luas lahan terdampak karhutla di Kalsel tercatat mencapai 23.560,57 hektare.
Penanganan di lapangan difokuskan pada tiga wilayah prioritas, yakni Gutung Damar dengan luas lahan terbakar 960,22 hektare, Hutan Lindung 1.071,22 hektare, dan Pengayuan 549,7 hektare.
Satgas Karhutla Kalsel melakukan berbagai metode penanganan, mulai dari pemadaman darat, perendaman, hingga pembasahan lahan. Dukungan sarana yang disiapkan antara lain lima sumur bor, tiga sumur swasta, serta 100 unit mesin Dongfeng yang dioperasikan untuk kegiatan perendaman selama 24 jam.
Untuk memperkuat penanganan di darat, sebanyak 3.557 personel gabungan telah diterjunkan ke sejumlah lokasi.
Sekdaprov Tekankan Satu Sumber Data
Syarifuddin mengatakan keseragaman data menjadi salah satu aspek penting dalam koordinasi penanganan karhutla. Menurutnya, perbedaan data antarpihak dapat menyulitkan proses evaluasi maupun pengambilan keputusan.
“Yang jelas, tadi sudah disampaikan bahwa pengendalian data menjadi hal yang penting. Data ini sebaiknya nantinya menjadi satu sumber, sehingga siapa pun yang ditanya akan memberikan data yang sama,” kata Syarifuddin usai meninjau lokasi.



