HALOBORNEO.COM, LIFESTYLE – HALO SOBAT BORNEO, Matcha bukan sekadar minuman hijau kekinian yang kerap muncul di media sosial atau menjadi alternatif kopi bagi anak muda. Di balik popularitasnya saat ini, matcha memiliki sejarah panjang yang telah berlangsung hampir 1.000 tahun dan berakar dari tradisi minum teh di China sebelum berkembang pesat di Jepang.
Melansir Matchaful, asal-usul matcha dapat ditelusuri hingga masa Dinasti Tang di China, sekitar abad ke-7 hingga ke-10. Pada masa itu, daun teh dikukus, dikeringkan, kemudian dipadatkan menjadi bentuk bata agar lebih mudah dibawa dan diperdagangkan.
Saat akan disajikan, teh tersebut digiling dan dicampur dengan air panas. Tradisi ini kemudian berkembang pada masa Dinasti Song (960-1279), ketika daun teh digiling hingga halus dan dikocok bersama air panas hingga menghasilkan minuman lembut dan berbusa.
BACA JUGA : Sejarah Kopi di Indonesia dan Ragam Jenis Kopi Nusantara yang Mendunia
Minuman tersebut menjadi salah satu favorit para biksu dan cendekiawan karena dipercaya memberikan ketenangan sekaligus membantu menjaga kesegaran pikiran.
Namun, tradisi mengonsumsi teh bubuk perlahan memudar di China. Sebaliknya, tradisi tersebut berkembang di Jepang setelah seorang biksu Buddha Zen bernama Eisai membawa bibit tanaman teh dan pengetahuan tentang pengolahan teh dari China pada akhir abad ke-12.
Eisai menanam bibit teh di Gunung Sefuri. Sementara itu, biksu lainnya, Myoue Shounin, menanam teh di wilayah Uji, yang kemudian dikenal sebagai salah satu sentra produksi matcha terkemuka di Jepang.
Kondisi iklim dan tanah di Uji mendukung produksi teh dengan karakter rasa yang lembut dan kaya umami. Seiring perkembangannya, Uji kemudian identik dengan produksi matcha berkualitas tinggi.
Eisai juga menulis buku Kissa Yojoki yang membahas manfaat minum teh bagi kesehatan. Dalam perkembangannya, matcha dikenal dapat memberikan efek menenangkan sekaligus membantu menjaga fokus, sehingga kemudian dikaitkan dengan praktik meditasi.
Tradisi tersebut juga diadopsi oleh kalangan samurai sebagai bagian dari upaya menjaga ketenangan dan konsentrasi.
Pada abad ke-15 dan ke-16, matcha semakin erat kaitannya dengan chanoyu atau upacara minum teh Jepang. Tradisi tersebut dikembangkan oleh sejumlah tokoh, di antaranya Murata Juko dan Sen no Rikyu.
Melalui ajaran mereka, minum teh tidak hanya dipandang sebagai aktivitas menikmati minuman, tetapi juga sebagai bentuk kesadaran, kesederhanaan, dan penghargaan terhadap sebuah momen. Matcha pun berkembang menjadi bagian dari filosofi yang menekankan harmoni antara manusia, alam, dan lingkungan sekitarnya.
Seiring waktu, teknik budidaya tanaman teh untuk menghasilkan matcha juga mengalami perkembangan. Petani Jepang mulai menutup tanaman teh selama beberapa minggu sebelum masa panen. Teknik ini membantu menghasilkan daun dengan warna lebih hijau, cita rasa yang lebih manis, serta tekstur yang lebih lembut.
Daun yang digunakan untuk matcha kemudian diolah menjadi tencha sebelum digiling menjadi bubuk halus. Teknik budidaya dan pengolahan tersebut hingga kini menjadi bagian penting dalam produksi matcha berkualitas.
BACA JUGA : Jalan Kaki 15 Menit Sehari Bisa Bantu Jaga Kesehatan Jantung
Matcha yang pada masa pemerintahan Keshogunan Kamakura sempat identik dengan kalangan elite, perlahan menyebar ke berbagai lapisan masyarakat Jepang. Memasuki abad ke-20, matcha semakin dikenal melalui kedai teh dan berbagai kegiatan tradisional.
Popularitas matcha kemudian meningkat secara global pada abad ke-21. Kehadirannya di kafe modern, media sosial, dan tren gaya hidup membuat matcha tidak lagi terbatas pada tradisi Jepang.
Kini, matcha hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari minuman seperti matcha latte hingga kue, es krim, dan beragam produk lainnya. Perjalanan panjang tersebut menjadikan matcha sebagai salah satu produk budaya Jepang yang berhasil memadukan tradisi dengan gaya hidup modern.
Sumber: Hypeabis



