HALOBORNEO.COM, BANJARMASIN – Kasus keracunan makanan kembali menjadi sorotan. Dalam beberapa waktu terakhir, insiden keracunan massal—termasuk yang dikaitkan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG)—menunjukkan bahwa persoalan keamanan pangan masih menjadi tantangan serius.
Bahkan, laporan terbaru menyebut ratusan siswa sempat dirawat akibat dugaan keracunan makanan, yang diduga berkaitan dengan masalah penyimpanan dan distribusi makanan.
BACA JUGA: Ratusan Santri di Sidoarjo Diduga Keracunan Usai Santap Menu MBG
Di balik kasus-kasus tersebut, bakteri menjadi salah satu penyebab utama yang paling sering ditemukan.
Bakteri Jadi “Biang Kerok” Keracunan
Dalam banyak kasus keracunan makanan, kontaminasi mikroorganisme menjadi faktor dominan. Peneliti menyebut bakteri seperti Salmonella dan Escherichia coli (E. coli) kerap ditemukan dalam kasus keracunan, termasuk pada menu MBG di beberapa daerah.
Kontaminasi ini bisa terjadi di berbagai tahap, mulai dari bahan mentah, proses pengolahan, hingga penyajian makanan.
Masalahnya, makanan yang sudah terkontaminasi sering kali tetap terlihat normal. Tidak berubah rasa, warna, maupun bau, sehingga sulit dideteksi secara kasat mata.
Ini Jenis Bakteri yang Paling Sering Menyebabkan Keracunan
Dikutip dari laman Hellosehat.com, beberapa bakteri berikut dikenal sebagai penyebab utama keracunan makanan:
- Salmonella
Umumnya ditemukan pada telur, ayam, dan daging yang tidak dimasak sempurna. Bakteri ini bisa menyerang usus dan memicu diare hingga demam. - Escherichia coli (E. coli)
Banyak ditemukan pada makanan yang kurang higienis. Beberapa jenisnya bisa menyebabkan infeksi serius pada saluran pencernaan. - Staphylococcus aureus
Sering berasal dari tangan manusia saat mengolah makanan. Bakteri ini dapat berkembang cepat pada makanan yang dibiarkan di suhu ruang. - Clostridium perfringens
Berkembang pada makanan yang disimpan terlalu lama dalam suhu hangat. Bisa menyebabkan kram perut dan diare dalam waktu singkat. - Campylobacter
Umumnya berasal dari makanan mentah atau setengah matang, terutama unggas.
BACA JUGA: [OPINI] Kabut Asap dan Napas yang Tercekat
Selain itu, dalam kasus tertentu di Indonesia juga dikenal racun berbahaya seperti bongkrek acid yang dihasilkan bakteri tertentu pada makanan fermentasi, yang dapat menyebabkan keracunan serius bahkan fatal.
Kenapa Kasus Keracunan Bisa Terjadi?
Kasus seperti MBG menunjukkan bahwa keracunan tidak selalu berasal dari satu faktor saja. Beberapa penyebab yang sering terjadi antara lain:
- makanan tidak dimasak hingga matang
- sanitasi dapur yang buruk
- alat masak dan makan tidak steril
- penyimpanan makanan yang tidak sesuai
- jeda waktu terlalu lama antara memasak dan konsumsi
Dalam skala besar seperti distribusi makanan massal, risiko ini menjadi lebih tinggi jika standar keamanan tidak dijaga secara ketat.
Jangan Anggap Sepele
Sebagian besar keracunan memang tergolong ringan, tetapi dalam kondisi tertentu bisa berbahaya—terutama bagi anak-anak.
Karena itu, penting untuk memastikan makanan yang dikonsumsi benar-benar aman, mulai dari proses memasak, penyimpanan, hingga penyajian.
Kasus-kasus yang terjadi belakangan ini menjadi pengingat bahwa keamanan pangan bukan sekadar urusan dapur, tetapi juga menyangkut sistem distribusi, pengawasan, dan kesadaran bersama.
Editor: Rizki



