oleh: Eva Rizkiyana
Jurnalis dan anggota Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Kalimantan Selatan
Sebagai warga Kalimantan Selatan yang banyak beraktivitas di Banjarmasin dan sekitarnya, rasanya sudah lama udara yang kita hirup tak lagi benar-benar sehat. Jika biasanya kita hanya “berdamai” dengan polusi, maka sejak dua pekan terakhir, cobaan itu bertambah satu: kabut asap.
Sepanjang perjalanan dari Martapura menuju Banjarmasin, kabut asap menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Perbedaannya hanya pada tingkat kepekatan. Selebihnya sama—hidung terasa kotor, napas berat, dada seperti ditekan perlahan.
Jangan kira kabut asap hanya terasa di jalanan. Di dalam rumah—ruang yang seharusnya menjadi tempat paling aman—udara pun tak lagi sepenuhnya bersih. Asap menyusup masuk, pelan tapi pasti. Seolah tak ada lagi ruang benar-benar terlindungi.
Barangkali benar sindiran warganet belakangan ini: “tidak ada yang lebih tabah selain WNI yang tinggal di Kalimantan.” Kalimat yang terdengar jenaka, tapi sesungguhnya menyimpan kelelahan kolektif yang nyata.
Jika ditarik ke belakang, sejak akhir Juni 2026, masyarakat Kalimantan Selatan seperti diuji bertubi-tubi. Dimulai dari pemadaman listrik yang terjadi hampir setiap hari selama 6–8 jam tanpa jeda. Lalu disusul ancaman kekeringan, sulitnya akses air bersih di sejumlah wilayah, serta hujan yang tak kunjung turun akibat kemarau panjang.
Belum sepenuhnya pulih dari kondisi itu, pemadaman listrik kembali datang dalam “musim kedua”. Kanal resmi PLN di berbagai kabupaten/kota nyaris tak pernah absen mengirimkan jadwal pemadaman melalui WhatsApp—sebuah rutinitas yang lama-lama terasa menyesakkan.
Sekarang puncaknya: kabut asap yang telah menyelimuti Kalimantan Selatan selama hampir dua pekan terakhir. Langit yang biasanya cerah dan membiru kini berubah pucat, bahkan menguning tergantung tingkat kepekatan kabutnya. Jarak pandang menurun, dan udara terasa asing di paru-paru sendiri.
Soal pernapasan, tak perlu ditanya. Baru keluar kamar, banyak yang langsung batuk dan bersin karena sensitif terhadap udara. Kita yang dewasa saja merasa tidak nyaman, apalagi anak-anak yang jauh lebih rentan.
Masker berlapis pun sering terasa sia-sia. Asap tetap menembus. Mata perih, tenggorokan kering, kepala terasa berat. Aktivitas harian berjalan, tapi tidak pernah lagi benar-benar normal.
Dampaknya pun mulai terlihat jelas. Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kalimantan Selatan melonjak dalam waktu singkat. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan yang dikutip dari Kompas.com, hingga akhir Agustus 2026, jumlah kasus ISPA telah mencapai lebih dari 46 ribu, dengan kenaikan rata-rata sekitar tujuh ribu kasus setiap pekan.
Itu baru angka yang tercatat—mereka yang datang berobat ke fasilitas kesehatan. Di luar itu, masih banyak yang memilih bertahan di rumah, menganggap sakitnya “biasa saja”, atau tidak memiliki akses untuk memeriksakan diri.
Di tengah kondisi ini, harapan masyarakat sebenarnya sederhana: udara kembali bersih, dan kebakaran hutan serta lahan berhenti. Tidak lebih. Namun, kesederhanaan itu justru terasa semakin sulit diraih.
Ironisnya, ketika kabut asap semakin pekat dan karhutla terus meluas, empati tidak selalu hadir sebanding dengan situasi. Di saat masyarakat membutuhkan perlindungan—masker, edukasi, atau langkah nyata—masih ada pihak-pihak yang memilih diam. Seolah ini bukan keadaan darurat.
Padahal, ini bukan sekadar soal kabut asap. Ini soal kesehatan, tentang anak-anak yang terpapar setiap hari, tentang pekerja yang tetap harus keluar rumah, tentang lansia yang semakin rentan.
Lebih dari itu, ini soal hak dasar: menghirup udara bersih.
Jika kondisi ini terus berulang setiap tahun tanpa penanganan yang serius dan berkelanjutan, maka yang kita hadapi bukan lagi sekadar bencana musiman, melainkan krisis yang dinormalisasi.
Dan ketika krisis sudah dianggap biasa, di situlah letak bahaya yang sesungguhnya.
*catatan: Opini ini adalah pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan sikap maupun kebijakan redaksi haloborneo.com



