BerandaNasionalKemenhub Siapkan Bandara Alternatif Imbas Abu Vulkanik Anak Krakatau

Kemenhub Siapkan Bandara Alternatif Imbas Abu Vulkanik Anak Krakatau

Kemenhub terus berkoordinasi dengan maskapai dan pengelola bandara untuk menangani dampak terhadap penumpang. Jika kondisi memungkinkan dan bandara kembali dibuka, sejumlah persiapan akan dilakukan sebelum operasional penerbangan dimulai kembali.

Persiapan tersebut antara lain pemeriksaan dan pembersihan runway, taxiway, serta apron dari abu vulkanik.

“Sejumlah upaya persiapan masih akan dilakukan setelah bandara dibuka dan sebelum siap dioperasikan kembali,” kata Dudy.

Untuk menjaga konektivitas penerbangan selama sejumlah bandara ditutup, Kemenhub menyiapkan enam bandara alternatif, yaitu Bandara Juanda di Jawa Timur, Bandara Adi Soemarmo di Jawa Tengah, Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Daerah Istimewa Yogyakarta, Bandara Adisutjipto di Daerah Istimewa Yogyakarta, Bandara Jenderal Ahmad Yani di Jawa Tengah, serta Bandara Internasional Kertajati di Jawa Barat.

“Kami mengimbau kepada seluruh maskapai, baik luar maupun dalam negeri, untuk menggunakan bandara-bandara alternatif yang sudah disiapkan, seperti Kertajati, Ahmad Yani, Juanda, YIA, Adisutjipto, dan Adi Soemarmo,” ujarnya.

Menurut Dudy, penggunaan bandara alternatif dapat membantu mencegah penumpukan penumpang, baik penumpang yang akan tiba maupun yang akan berangkat. Namun, penggunaannya tetap disesuaikan dengan kondisi operasional, kesiapan bandara, rute penerbangan, dan keputusan masing-masing maskapai.

Kemenhub juga terus berkoordinasi dengan pengelola bandara, AirNav Indonesia, maskapai penerbangan, dan instansi terkait untuk memastikan penyesuaian operasional dilakukan secara aman dan terkoordinasi.

BACA JUGA : Konsisten Perkuat Literasi, BSI Raih 4 Penghargaan dari OJK

Dudy mengimbau masyarakat yang akan bepergian menggunakan transportasi udara untuk memastikan status penerbangannya kepada maskapai sebelum menuju bandara. Penumpang yang terdampak penutupan bandara juga diminta mengikuti arahan dan kebijakan maskapai terkait perubahan jadwal maupun pengalihan penerbangan.

Masyarakat diminta memantau perkembangan kondisi penerbangan melalui kanal informasi resmi Kemenhub, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, serta maskapai masing-masing. Status operasional bandara dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan sebaran abu vulkanik dan kondisi keselamatan penerbangan.

“Langkah ini dilakukan untuk memastikan keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas sekaligus menjaga konektivitas transportasi udara bagi masyarakat,” kata Dudy.

Sumber : Republika

Penulis

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Most Popular