BerandaLifestyleIni Alasan AI Butuh Energi dan Air dalam Skala Besar

Ini Alasan AI Butuh Energi dan Air dalam Skala Besar

HALOBORNEO.COM, MARTAPURA – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam beberapa tahun terakhir membawa dampak besar pada kebutuhan infrastruktur digital global. Di balik layanan seperti chatbot, generator gambar, hingga sistem otomatisasi, terdapat pusat data berisi ribuan server yang bekerja tanpa henti dan membutuhkan energi dalam jumlah besar.

Tidak hanya listrik, AI juga berkaitan dengan penggunaan air, terutama dalam proses pendinginan pusat data yang terus beroperasi untuk menjaga stabilitas sistem.

Server berperforma tinggi jadi sumber utama konsumsi listrik

AI dijalankan melalui pusat data yang dipenuhi server dengan prosesor dan akselerator berdaya tinggi seperti GPU. Perangkat ini bekerja untuk memproses data dalam skala besar, baik saat pelatihan model maupun saat digunakan oleh pengguna.

Dalam laporan International Energy Agency (IEA) tahun 2025, server disebut menyumbang sekitar 60 persen dari konsumsi listrik di pusat data modern. Seiring meningkatnya penggunaan AI, kebutuhan energi untuk menjalankan sistem ini juga ikut meningkat.

Selain untuk menjalankan komputasi, listrik juga dibutuhkan untuk menjaga suhu server tetap stabil. Aktivitas komputasi yang tinggi menghasilkan panas besar, sehingga pusat data membutuhkan sistem pendingin agar perangkat tidak mengalami gangguan.

IEA memperkirakan sistem pendingin dan infrastruktur pendukung lain menyumbang porsi signifikan terhadap pertumbuhan konsumsi listrik pusat data global hingga 2030.

Air digunakan dalam proses pendinginan

Sebagian pusat data menggunakan sistem pendingin berbasis air untuk membantu membuang panas dari perangkat. Selain itu, penggunaan air juga terjadi secara tidak langsung melalui proses pembangkitan listrik yang memasok energi ke pusat data.

Sejumlah studi menunjukkan kebutuhan air pada pusat data sangat bervariasi, tergantung pada lokasi, desain sistem, dan efisiensi perangkat yang digunakan.

Penggunaan air dan listrik dalam AI tidak bisa dihitung secara seragam untuk setiap aktivitas atau “prompt”. Setiap pusat data memiliki sistem berbeda, sehingga jejak konsumsi energinya juga tidak sama.

Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa perbedaan penggunaan air dapat mencapai ribuan kali lipat tergantung pada jenis beban kerja dan infrastruktur yang digunakan.

Kebutuhan energi diproyeksikan terus meningkat

Seiring meningkatnya penggunaan AI secara global, kebutuhan energi pusat data juga diproyeksikan terus naik. IEA memperkirakan konsumsi listrik pusat data bisa mencapai hampir dua kali lipat pada 2030 dibandingkan dengan 2024, dengan AI menjadi salah satu pendorong utama.

Meski demikian, efisiensi teknologi juga terus berkembang sehingga konsumsi energi per tugas AI cenderung menurun. Namun, peningkatan jumlah pengguna membuat total konsumsi tetap berpotensi naik.

Editor: Rizki

Penulis

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Most Popular