4. Tjilik Riwut
Tjilik Riwut merupakan tokoh Dayak Ngaju yang memiliki peran dalam sejarah perjuangan dan pembangunan Kalimantan Tengah. Ia lahir di Kasongan pada 2 Februari 1918.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Tjilik Riwut memimpin ekspedisi ke pedalaman Kalimantan Tengah. Ia turut menggalang dukungan dari berbagai kelompok masyarakat Dayak untuk mempertahankan Kalimantan sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tjilik Riwut kemudian diangkat sebagai Gubernur Kalimantan Tengah pertama pada 30 Juni 1958.
Ia juga dikenal memiliki peran dalam pembangunan Kota Palangka Raya. Dedikasinya dalam pembangunan ibu kota provinsi tersebut membuat namanya lekat dengan sejarah awal pembangunan Palangka Raya.
Pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Tjilik Riwut pada 1998. Namanya kini diabadikan sebagai nama Bandar Udara Tjilik Riwut di Palangka Raya.
5. Abdul Kadir atau Raden Temenggung Setia Pahlawan
Abdul Kadir merupakan tokoh perjuangan asal Kalimantan Barat. Ia lahir pada 1771 dan kemudian dikenal sebagai bangsawan yang memimpin wilayah Melawi.
Pada 1845, Abdul Kadir dipercaya menjadi Kepala Pemerintahan Melawi yang ketika itu berada di bawah Kerajaan Sintang. Ia kemudian memperoleh gelar Raden Temenggung.
Dalam menjalankan pemerintahan, Abdul Kadir turut mengembangkan potensi ekonomi daerah serta berupaya mempererat hubungan antara masyarakat Dayak dan Melayu.
Ia juga dikenal karena perlawanannya terhadap Belanda yang berusaha menguasai wilayah Melawi. Perlawanan tersebut berlangsung hingga akhirnya Abdul Kadir ditangkap dan ditahan Belanda di Nanga Pinoh, Melawi.
Atas jasa dan perjuangannya, pemerintah menetapkan Abdul Kadir sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 114/TK/1999 pada 13 Oktober 1999.
6. Sultan Aji Muhammad Idris
Sultan Aji Muhammad Idris merupakan tokoh dari Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang hidup pada abad ke-18. Ia dikenal sebagai pemimpin yang terlibat dalam perjuangan melawan VOC.
Sultan Idris menjalin hubungan politik dan militer dengan La Maddukelleng, bangsawan Wajo dari Sulawesi Selatan. Ia bahkan menikahi cucu La Maddukelleng pada 1732 yang kemudian menjadi bagian dari hubungan aliansi tersebut.
Ketika melihat pengaruh VOC di Sulawesi Selatan, Sultan Idris memilih membantu perjuangan La Maddukelleng. Ia meninggalkan kenyamanan sebagai penguasa dan turut memimpin ekspedisi militer melawan VOC.
Pasukan dari Kutai, Pasir, Sambaliung, dan Pangatan dipersiapkan untuk mendukung perjuangan tersebut. Sultan Idris juga disebut mengoordinasikan pengadaan senjata dan mesiu dari sejumlah wilayah, termasuk Brunei dan Mindanao.
Pada 1736 dan 1737, ia memimpin serangan terhadap benteng VOC di Makassar, termasuk Fort Rotterdam.
Sultan Idris kemudian dilaporkan gugur pada 1739 di wilayah Wajo dalam perjuangan melawan VOC.
Pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Aji Muhammad Idris pada 10 November 2021. Ia menjadi salah satu tokoh dari Kalimantan Timur yang memperoleh gelar tersebut.
7. Pangeran Mohamad Noor
Ir Pangeran Mohamad Noor atau PM Noor merupakan tokoh asal Kalimantan yang memiliki peran dalam pemerintahan dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Menjelang kemerdekaan, PM Noor menjadi salah satu anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Ia menjadi satu-satunya utusan dari Kalimantan yang duduk dalam sidang kedua BPUPKI pada 10 Juli 1945.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Presiden Soekarno melantik PM Noor sebagai Gubernur Kalimantan pertama pada 19 Agustus 1945.
Dalam situasi revolusi, ia menjalankan pemerintahan dan mendukung perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari Yogyakarta sehingga dikenal dengan julukan “Gubernur Perjuangan”.
PM Noor kemudian dipercaya menduduki jabatan Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga. Dalam bidang pembangunan, ia antara lain menggagas proyek Barito River Authority serta pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Riam Kanan.
PLTA Riam Kanan kemudian dikenal sebagai PLTA Ir H PM Noor.
Atas jasa-jasanya, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada PM Noor pada 10 November 2018.
8. Dokter Rubini
Raden Rubini Natawisastra merupakan dokter yang dikenal karena pengabdiannya kepada masyarakat dan perjuangannya melawan pendudukan Jepang di Kalimantan Barat.
Ia lahir di Bandung pada 31 Agustus 1906. Sebagai dokter, Rubini dikenal rutin memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di daerah terpencil tanpa membedakan latar belakang sosial.
Selain menjalankan profesi sebagai dokter, Rubini aktif dalam organisasi pergerakan. Ia terlibat dalam Soos Medan Sepakat dan Partai Indonesia Raya (Parindra).
Pada masa pendudukan Jepang, Rubini memilih tetap tinggal untuk memberikan pertolongan kepada masyarakat. Ia kemudian terlibat dalam gerakan bawah tanah bersama sejumlah tokoh pergerakan.
Setelah organisasi yang menjadi wadah pergerakan dibubarkan oleh Jepang, Rubini memimpin gerakan perlawanan dengan membentuk pasukan yang dikenal sebagai “Soeka Rela” pada Juni 1943.
Rencana pemberontakan yang dijadwalkan pada Desember 1943 diketahui oleh Jepang. Rubini bersama sejumlah rekannya kemudian ditangkap.
Pada 28 Juni 1944, Rubini, istrinya, dan puluhan tokoh lainnya dieksekusi oleh tentara Jepang. Jenazah mereka kemudian dimakamkan di pemakaman massal Mandor.
Untuk mengenang jasanya, Rumah Sakit Umum Mempawah kemudian menggunakan nama Rumah Sakit Dokter Rubini.
Pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada dr Rubini pada 7 November 2022.
Jejak Perjuangan dari Tanah Borneo
Para tokoh tersebut memiliki latar belakang dan medan perjuangan yang berbeda. Ada yang memimpin perlawanan bersenjata terhadap penjajahan, mempertahankan kemerdekaan, menjalankan pemerintahan, memperjuangkan pendidikan, hingga memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Pengakuan sebagai Pahlawan Nasional menjadi bagian dari penghormatan negara terhadap jasa dan perjuangan mereka dalam perjalanan sejarah Indonesia.
Sumber:
- Arsip liputan detikcom.
- Dinas Komunikasi dan Informatika Kalimantan Selatan.
- BPK Provinsi Kalimantan Selatan.
- Kementerian Agama RI.
- Ahmad Muhajir, Idham Chalid: Guru Politik Orang NU.
- Kementerian Kebudayaan.
- Suriadi dkk., Perjuangan Sultan Aji Muhammad Idris.
- Penguatan dan Pelemahan Persatuan Bangsa: Media dan Tokoh di Kalimantan Selatan (1923-1959), Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalimantan Barat, 2019.
- Helius Sjamsuddin, “Kiprah Pangeran Mohamad Noor dalam Dinamika Politik Indonesia (1945-1967)”, HISTORIA: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah, Vol. I, No. 2, April 2018.



