HALOBORNEO.COM, JAKARTA – Satu pulau memiliki dua nama yang sama-sama dikenal luas: Kalimantan dan Borneo. Dalam peta dunia, jurnal ilmiah, serta berbagai literatur internasional, pulau terbesar ketiga di dunia itu umumnya disebut Borneo. Sementara di wilayah kedaulatan Indonesia, pulau tersebut dikenal sebagai Kalimantan.
Perbedaan nama itu bukan sekadar persoalan terjemahan. Di baliknya terdapat sejarah panjang mengenai asal-usul istilah, pengaruh perdagangan dan kolonialisme, hingga proses pembentukan identitas nasional Indonesia.
Asal-usul kata Kalimantan memiliki sejumlah versi.
Salah satu teori mengaitkannya dengan bahasa Sanskerta, yakni Kalamanthana. Kata kala disebut berarti musim atau cuaca, sedangkan manthana berarti membakar. Istilah tersebut kemudian dimaknai sebagai “pulau yang panasnya membakar”, yang dianggap berkaitan dengan karakter iklim tropis Kalimantan yang dilintasi garis khatulistiwa.
Teori lain dikemukakan John Crawfurd, penjelajah Inggris, pada 1865. Ia menyebut Kalimantan berasal dari nama buah mangga lokal, klemantan, sehingga istilah tersebut dapat dimaknai sebagai “Pulau Mangga”. Pohon yang dikaitkan dengan istilah tersebut masih dapat ditemukan di sekitar Ketapang, Kalimantan Barat.
Ada pula teori yang menghubungkan kata Kalimantan dengan bahasa Jawa dan Dayak. Dalam versi ini, kali dalam bahasa Jawa berarti sungai, sedangkan mantan atau pamantan dalam bahasa Dayak Ngaju disebut berarti besar. Kalimantan kemudian dimaknai sebagai “sungai besar”, yang dianggap sesuai dengan karakter geografis pulau tersebut yang memiliki sejumlah sungai besar, seperti Kapuas, Barito, Mahakam, dan Kahayan.
Versi lain dicatat Tjilik Riwut, budayawan sekaligus tokoh Kalimantan Tengah, dalam riset yang diterbitkan Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, pada 1977. Menurut Riwut, nama Kalimantan berakar dari Tetek Tatum, tradisi lisan Dayak Ngaju, yang menyebut tempat bernama Bangawan Bawi Lewu Telo, yang kurang lebih berarti “negeri tempat tiga putri”.
Namun, penelitian lanjutan menilai istilah tersebut tidak merujuk pada lokasi nyata dan secara etimologis kurang kuat untuk menjelaskan asal nama Kalimantan.
Ahli bahasa Slamet Muljana memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, Kalimantan bukan kata Melayu asli, melainkan kata serapan, sebagaimana istilah Malaya atau Melayu yang disebutnya berasal dari bahasa India. Kata malaya sendiri berarti gunung.
Beragam teori tersebut menunjukkan bahwa asal-usul nama Kalimantan masih menjadi pembahasan dan tidak memiliki satu penjelasan yang disepakati secara universal.
Borneo berasal dari nama Brunei
Berbeda dengan Kalimantan, istilah Borneo lebih jelas berkaitan dengan sejarah kontak Eropa dengan kawasan tersebut.
Pada 1521, rombongan Spanyol yang membawa Antonio Pigafetta tiba di wilayah utara pulau. Mereka berinteraksi dengan Kesultanan Brunei, salah satu kerajaan maritim berpengaruh di kawasan tersebut.
Nama Brunei kemudian digunakan oleh pelaut Eropa untuk menyebut wilayah pulau yang mereka kenal. Dalam perkembangannya, istilah tersebut berubah melalui penggunaan dalam bahasa Portugis dan Spanyol menjadi Borne dan kemudian Borneo.
Istilah Borneo selanjutnya digunakan dalam peta-peta navigasi Eropa dan berkembang menjadi nama yang digunakan dalam berbagai literatur ilmiah dan hukum internasional.
Kalimantan dan identitas nasional
Penggunaan nama Kalimantan semakin menguat di kalangan pergerakan nasional Indonesia pada dekade 1920-an dan 1930-an.
Pada 1930, A.A. Hamidhan mendirikan surat kabar Soeara Kalimantan di Banjarmasin. Surat kabar tersebut hadir di tengah dominasi pers kolonial, termasuk Borneo Post. Dua tahun sebelumnya, Housman Baboe mengganti nama kantor berita Borpena menjadi Kalpena.
Organisasi pemuda seperti Sarekat Kalimantan juga bermunculan. Pada masa perang kemerdekaan, penggunaan nama Kalimantan turut terlihat dalam struktur perjuangan bersenjata, antara lain Tentara ALRI Divisi IV di bawah Hassan Basry.
Nama Kalimantan kemudian memperoleh kedudukan resmi dalam struktur pemerintahan Republik Indonesia.
Pada 19 Agustus 1945, dua hari setelah Proklamasi Kemerdekaan, sidang kedua PPKI menetapkan pembagian wilayah Republik Indonesia menjadi delapan provinsi. Salah satunya adalah Provinsi Kalimantan, dengan Pangeran Mohammad Noor sebagai gubernur pertama.
Sejak saat itu, Kalimantan tidak hanya digunakan sebagai sebutan geografis, tetapi juga menjadi nama resmi wilayah dalam struktur negara Republik Indonesia.
Borneo untuk pulau, Kalimantan untuk wilayah Indonesia
Dalam penggunaan saat ini, Borneo umumnya merujuk pada keseluruhan pulau yang wilayahnya terbagi antara Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
Pulau Borneo memiliki luas sekitar 743 ribu kilometer persegi. Wilayah Indonesia mencakup sekitar 73 persen dari luas pulau tersebut dan dikenal sebagai Kalimantan.
Wilayah Kalimantan di Indonesia saat ini terbagi menjadi lima provinsi, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
Dengan demikian, Borneo dan Kalimantan pada dasarnya merujuk pada ruang geografis yang berbeda cakupannya. Borneo digunakan untuk keseluruhan pulau, sedangkan Kalimantan digunakan untuk bagian pulau yang berada di wilayah Indonesia.
Di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan
Perbedaan nama tersebut menjadi bagian dari sejarah sebuah pulau yang hingga kini menghadapi persoalan lingkungan serius, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Per 20 Agustus 2026, BNPB mencatat 1.487 titik panas di seluruh Kalimantan. Konsentrasi tertinggi berada di Kalimantan Tengah dengan sekitar 767 titik, disusul Kalimantan Barat dengan sekitar 560 titik.
Di Kalimantan Barat, BPBD mencatat luas lahan yang terbakar sejak Januari hingga Agustus 2026 mencapai lebih dari 38 ribu hektare. Kabupaten Ketapang dan Kubu Raya menjadi wilayah yang paling terdampak. Status siaga darurat karhutla di provinsi tersebut juga telah diperpanjang hingga September.
Kebakaran dipengaruhi sejumlah faktor yang berulang pada musim kemarau. Kondisi kering yang diperparah fenomena El Nino dapat meningkatkan risiko kebakaran, sementara pembukaan lahan gambut untuk pertanian dan perkebunan turut menjadi faktor yang memperbesar ancaman.
Hampir seperlima wilayah Kalimantan Barat merupakan lahan gambut. Karakteristik gambut membuat api lebih sulit dipadamkan sepenuhnya ketika terjadi kebakaran.
Sebuah penelitian Universitas Tanjungpura yang dimuat dalam Jurnal Prisma Fisika pada 2024 menganalisis jumlah titik panas di Kalimantan Barat selama periode 2001-2021. Penelitian tersebut mencatat jumlah titik panas tertinggi terjadi pada 2006, dengan hampir 6.500 titik, serta menemukan hubungan berbanding terbalik antara curah hujan dan jumlah titik panas.
Sementara itu, lembaga pemantau gambut independen Pantau Gambut mencatat mayoritas titik panas di Kalimantan berada di kawasan yang seharusnya berfungsi sebagai kawasan lindung. Sebagian besar titik panas tersebut juga berada di area konsesi perusahaan.
Pada akhirnya, Kalimantan dan Borneo bukan sekadar dua nama untuk satu pulau. Keduanya mencerminkan lapisan sejarah yang berbeda: nama yang tumbuh dari tradisi dan identitas lokal, serta nama yang berkembang melalui kontak perdagangan dan pemetaan dunia oleh bangsa Eropa.
Di balik dua nama itu terdapat satu bentang alam yang sama—pulau besar yang wilayahnya kini terbagi di antara tiga negara dan terus menghadapi tantangan ekologis.
Sumber :
Crawfurd, J. (1856). A descriptive dictionary of the Indian islands and adjacent countries. Bradbury and Evans.
Riwut, T. (1978). Sejarah daerah Kalimantan Tengah. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Slamet Muljana. (2006). Asal bangsa dan bahasa Nusantara. LKiS.



