Sebuah pesan singkat di grup percakapan WhatsApp pada Minggu (06/09/2026) siang itu sempat membuat saya berhenti sejenak. Kalimatnya pendek, tanpa banyak penjelasan: “Pak Rudy Ariffin meninggal.”
Refleks, saya mencoba memastikan kebenarannya. Di grup lain, kabar serupa mulai muncul. Namun di saat yang sama, lini masa media sosial orang-orang terdekat almarhum masih tampak normal; belum ada unggahan apa pun terkait kabar tersebut. Ada jeda aneh di situ—antara percaya dan berharap itu tidak benar.
Telepon dari rekan-rekan media pun mulai berdatangan. Nada pertanyaannya sama: apakah kabar itu sudah pasti?
Yang membuat kabar ini terasa semakin sulit dipercaya adalah tidak adanya informasi sebelumnya mengenai kondisi kesehatan beliau. Bahkan beberapa waktu sebelumnya, pada bulan Agustus, almarhum terlihat hadir dan tampak bugar saat menerima rombongan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dalam agenda anjangsana jelang Hari Jadi Provinsi.
Kepastian baru benar-benar kami dapatkan setelah pernyataan resmi terkait penyebab wafat dan proses pemulasaran jenazah disampaikan oleh pihak keluarga.
Bagi saya pribadi, almarhum Pak Rudy Ariffin adalah sosok yang ngemong. Tidak pernah terlihat meninggi, selalu tenang, dan hampir selalu hadir dengan ekspresi yang seolah sudah berdamai dengan banyak hal. Senyumnya sederhana, tapi terasa menenangkan. Humble, kalem, dan penuh perhitungan dalam bersikap.
Saya mulai mengenal beliau sebagai jurnalis lapangan sekitar tahun 2015, saat beliau tidak lagi menjabat sebagai Gubernur, namun aktif sebagai Ketua DPW PPP Kalimantan Selatan.
Menariknya, interaksi yang saya miliki justru tidak selalu terjadi secara langsung. Sebagian kecil percakapan justru terjadi di media sosial Twitter (yang kini menjadi X). Pak Rudy termasuk salah satu tokoh yang cukup aktif di platform tersebut pada masanya, dengan gaya komunikasi yang mirip dengan beberapa tokoh nasional yang gemar menyampaikan kalimat-kalimat pendek.
Kadang hanya status ringan seperti, “Malam panas banar, nyaman minum es batu.” Sederhana, tapi justru terasa manusiawi—tidak berjarak dengan publik yang mengikutinya.
Ada satu potongan memori yang masih saya ingat dengan jelas, bahkan jauh sebelum itu, sekitar tahun 2012–2014, saat saya masih kuliah dan mulai bekerja di media.
Kala itu, pembangunan flyover di Jalan Ahmad Yani kilometer 4 sedang berlangsung. Arus lalu lintas di tempat tinggal kami yang padat dan kompleks menjadi salah satu jalur alternatif terdekat menuju jalan utama tanpa harus melewati area proyek.
Suatu hari, iring-iringan mobil dinas Gubernur Kalsel dengan kode DA 1 melintas di jalanan kompleks. Tanpa arogansi klakson dan kecepatan tinggi, mobil beliau dan iring-iringannya justru berusaha untuk mengikuti ritme jalanan kompleks kami yang hanya selebar 3-4 meter. Sederhana, tapi tidak semua pejabat bisa melakukannya.
Kini, semua potongan ingatan itu kembali muncul bersamaan dengan kabar duka yang datang tiba-tiba. Sosok yang dulu kami lihat melintas, tersenyum, atau sekadar menulis kalimat ringan di media sosial, telah berpulang.
Selamat jalan, Pak Rudy Ariffin.
oleh: Eva Rizkiyana
Editor Haloborneo.com dan Anggota Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Kalimantan Selatan



